Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini Rabu 18 Februari 2026

Rabu, 18 Februari 2026 | 13:45:32 WIB
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini Rabu 18 Februari 2026

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu, 18 Februari 2026, diperkirakan masih berada dalam tekanan, meski tidak menunjukkan pelemahan yang ekstrem.

Pasar menilai arah rupiah cenderung berfluktuasi seiring respons pelaku pasar terhadap berbagai sentimen global, terutama data inflasi AS dan ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral Negeri Paman Sam. Dalam situasi tersebut, pelaku pasar domestik dihadapkan pada dinamika eksternal yang cukup kuat, meski kondisi fundamental ekonomi nasional relatif terjaga.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sebelumnya ditutup melemah 0,05% ke posisi Rp16.836 per dolar AS pada Jumat, 13 Februari 2026. Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru menguat 0,14% ke level 97,05. Kondisi ini mencerminkan bahwa tekanan terhadap mata uang negara berkembang masih cukup terasa, termasuk terhadap rupiah, yang pergerakannya sangat sensitif terhadap perubahan arah dolar AS.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini

Direktur Trijaya Pratama Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berlangsung volatil, dengan kecenderungan melemah terbatas. Ia menyebut rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp16.830–Rp16.860 per dolar AS.

“Pada perdagangan Rabu, 18 Februari 2026 Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp16.830–Rp16.860 per dolar AS,” ujarnya.

Menurut Ibrahim, arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga global. Selama belum ada kejutan besar dari eksternal, pelemahan rupiah diperkirakan masih dalam batas wajar. Ia menilai sentimen pasar masih cenderung berhati-hati karena pelaku pasar menunggu kepastian data ekonomi Amerika Serikat yang menjadi acuan utama kebijakan moneter The Federal Reserve.

Adapun pada penutupan perdagangan Jumat, 14 Februari 2026, rupiah kembali terkoreksi 0,25% ke level Rp16.828 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat tipis 0,01% ke posisi 96,84. Data tersebut memperlihatkan bahwa tekanan eksternal terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda.

Inflasi AS dan Arah Kebijakan The Fed

Ketidakpastian arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed) masih menjadi sentimen utama pasar keuangan global. Data ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja masih cukup solid, sehingga mendorong penguatan dolar AS dari posisi terendah mingguannya. Situasi ini memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Perhatian investor kini tertuju pada rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS Januari. Inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja menjadi dua indikator penting yang diperhatikan The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga. Melansir Bloomberg, inflasi inti AS tercatat sedikit meningkat pada awal tahun, sesuai dengan perkiraan, karena kenaikan biaya jasa lebih besar dibandingkan harga barang yang relatif stabil.

Indeks harga konsumen (IHK) inti, tidak termasuk harga makanan dan energi yang cenderung fluktuatif, naik 0,3% dari Desember, tertinggi sejak Agustus, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja yang dirilis pada Jumat, 13 Februari 2026. Pada saat yang sama, IHK inti secara tahunan justru mencatatkan kenaikan terkecil sejak 2021.

Meski pasar memperkirakan inflasi mulai melandai, data Januari dalam beberapa tahun terakhir sering kali lebih tinggi dari ekspektasi. Jika kembali terjadi kejutan kenaikan inflasi, dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Sentimen Global dan Geopolitik Dunia

Selain faktor ekonomi, sentimen geopolitik juga turut memengaruhi pergerakan nilai tukar. Ketegangan di Timur Tengah relatif mereda setelah muncul sinyal negosiasi nuklir antara AS dan Iran. Namun, situasi di Eropa kembali memanas menyusul serangan drone terhadap fasilitas kilang minyak Rusia.

Walau perkembangan tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap pasar keuangan global, ketidakpastian tetap menjadi faktor yang diperhitungkan investor. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, sehingga menopang penguatan dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang.

Kondisi global yang belum sepenuhnya stabil membuat pasar keuangan bergerak hati-hati. Arus modal internasional pun masih berpotensi berubah arah dengan cepat, tergantung pada perkembangan ekonomi dan politik dunia. Hal inilah yang menjadikan pergerakan rupiah pada hari ini diperkirakan masih cenderung fluktuatif.

Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Solid

Di sisi domestik, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat untuk menopang stabilitas rupiah dalam jangka menengah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berada di kisaran 5% pada 2026, meskipun harus menghadapi tantangan perlambatan ekonomi Asia dan global.

Tren inflasi global yang mulai menurun juga membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter secara bertahap. Hal ini berpotensi menjadi katalis positif bagi stabilitas nilai tukar rupiah, terutama jika tekanan eksternal mulai mereda.

Selain itu, Indonesia dinilai memiliki daya saing ekspor yang relatif kuat, dengan potensi besar pada sektor manufaktur dan tenaga kerja. Berdasarkan sejumlah indikator potensi ekspor global, Indonesia berada di peringkat lima, menunjukkan peluang jangka menengah yang tetap positif.

Dengan kombinasi antara fundamental domestik yang cukup solid dan tekanan eksternal yang masih kuat, pergerakan rupiah pada hari ini diperkirakan akan berlangsung dalam rentang terbatas. Rupiah masih menghadapi tantangan dari sisi global, namun tetap memiliki penopang dari kondisi ekonomi dalam negeri.

Secara keseluruhan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu, 18 Februari 2026 diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Selama sentimen global belum sepenuhnya membaik dan arah kebijakan The Fed masih belum pasti, volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Namun, dengan fundamental ekonomi nasional yang relatif terjaga, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih dapat dikendalikan dalam batas wajar.

Terkini

Promo KPR Kompetitif Bikin Pasar Properti Bangkit

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:48:36 WIB

KPR Subsidi BTN Dorong Kepemilikan Rumah

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:48:36 WIB

Komitmen Regulasi Perkuat Industri Asuransi Jiwa

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:48:36 WIB

Edukasi Keuangan Dorong Akses Layanan BRI

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:48:36 WIB

Inisiatif Hijau BNI Perkuat Budaya Berkelanjutan

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:48:36 WIB